Awan menghitam menyelimuti langit biru mengiringi hatiku yg pilu terbalut rindu. . . Halilintarpun menyambar menggetarkan hatiku yg pudar terbungkus hambar. . .
Rinai hujan membasahi kelopak mataku yg menggenang goresan pedih hati yg melirih terkenang kekasih yg hilang. . .
Anginpun berhembus menembus jiwaku yg pupus tertusuk duri kaktus. . .
Hitamku pekat melekat di hatiku yg berkarat. . Gelap jiwaku melalap merayap harap yg lenyap. . .
Musyafir bersyair mengusir semilir hatiku yg getir. . .
Kelana berpetuah meraba hatiku yg gundah gulana. . .
Pengembala sapi menepi membangunkanku dari mimpi-mimpi yg keji. . .
Ku yakini awan hitam kan menjadi putih bersih tuk menghiasi hati yg suci. . .
Ku percayakan halilintar kan menghantar jiwaku yg tersadar. . .
Ku harapkan pada mata hari yg kan mengeringkan rinai hujan di kelopak mataku yg menggenang tuk membuang kenang kekasih yg hilang. . .
Ku sandarkan jiwaku bersama semilir lembut angin syahdu, menerobos ruang hatiku tuk memutus duri-duri kaktus yg membius sukmaku. . .
Hitamku kan ku warnai dgn cinta merona berbalur hati erat yg terjerat. . .
Gelapku kan ku sinari dgn cahaya lentera hatiku yg terlelap lenyap merayap tak berharap. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar